Uraian materi
ini diambil dan dikembangkan
dari buku Matematika Konsep dan Aplikasinya untuk SMP/MTS Kelas VII
karangan Dewi Nuharini dan Tri Wahyuni (2008: 79-102).
a.
Bentuk Aljabar
dan Unsur- Unsurnya
Bentuk aljabar
adalah suatu bentuk
matematika yang dalam penyajiannya memuat huruf-huruf untuk mewakili bilangan
yang belum diketahui.
Bentuk aljabar dapat dimanfaatkan untuk menyelesaikan masalah dalam kehidupan
sehari-hari. Hal-hal yang tidak diketahui
seperti banyaknya bahan bakar
minyak yang dibutuhkan sebuah bis dalam tiap minggu, jarak yang ditempuh dalam waktu tertentu,
atau banyaknya makanan ternak yang dibutuhkan dalam 3 hari, dapat dicari
dengan menggunakan aljabar.
1)
Variabel, Konstanta, dan Faktor
Perhatikan bentuk aljabar 5x + 3y + 8x – 6y + 9.
Pada bentuk aljabar tersebut,
huruf x dan
y disebut variabel. Variabel
adalah lambang pengganti suatu bilangan yang belum
diketahui nilainya dengan jelas. 



















Variabel disebut juga peubah.
Variabel
biasanya dilambangkan dengan huruf kecil
a, b, c, ..., z.
Adapun bilangan 9 pada bentuk aljabar di atas disebut konstanta.
Konstanta adalah suku dari suatu bentuk aljabar yang berupa
bilangan dan tidak memuat variabel. Jika suatu bilangan
a dapat diubah menjadi a = p x q dengan a, p, q bilangan bulat, maka p dan q disebut faktor-faktor dari a. Pada bentuk aljabar di atas, 5x dapat diuraikan
sebagai 5x = 5 x x atau
5x = 1 x 5x. Jadi, faktor-faktor dari 5x adalah
1, 5, x, dan 5x.
Koefisien adalah faktor konstanta
dari suatu suku pada bentuk
aljabar. Perhatikan koefisien
masing-masing suku pada bentuk aljabar 5x
+ 3y + 8x – 6y + 9. Koefisien pada suku 5x adalah 5, pada suku 3y adalah 3, pada suku 8x adalah 8, dan pada suku –6y adalah –6.
2)
Suku Sejenis dan Suku Tak Sejenis
a) Suku adalah variabel beserta
koefisiennya atau konstanta pada bentuk
aljabar yang dipisahkan oleh operasi jumlah atau selisih.
Suku-suku sejenis adalah
suku yang memiliki
variabel dan pangkat dari masing-masing variabel
yang sama.
Contoh: 5x
dan –2x, 3a2 dan a2, y dan 4y, ...
Suku
tak sejenis adalah suku yang memiliki variabel
dan pangkat dari masing-masing variabel yang tidak sama.
Contoh: 2x dan –3x2, –y dan –x3, 5x dan –2y, ...
b) Suku satu adalah bentuk
aljabar yang tidak
dihubungkan oleh operasi jumlah
atau selisih.
Contoh: 3x, 2a2, –4xy, ...
c) Suku dua adalah bentuk aljabar yang dihubungkan oleh satu
operasi jumlah atau selisih.
Contoh: 2x
+ 3, a2 – 4, 3x2 – 4x, ...
d) Suku tiga adalah bentuk aljabar yang dihubungkan oleh dua
operasi jumlah atau selisih.
Contoh: 2x2 – x + 1, 3x + y – xy, ...
Bentuk aljabar yang mempunyai
lebih dari dua suku disebut suku banyak.
b.
Operasi Hitung pada Bentuk
Aljabar
1) Penjumlahan dan Pengurangan Bentuk Aljabar
Pada bentuk aljabar, operasi penjumlahan dan pengurangan hanya
dapat dilakukan pada suku-suku yang sejenis. Jumlahkan atau kurangkan
koefisien pada suku-suku
yang sejenis.
2) Perkalian
Perlu
kalian ingat kembali bahwa pada
perkalian bilangan bulat berlaku sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan, yaitu
a x (b
+ c) = (a x b) + (a x c) dan sifat distributif perkalian terhadap pengurangan, yaitu a x (b – c) = (a x b) – (a x c), untuk
setiap bilangan bulat a, b, dan c. Sifat ini juga berlaku
pada perkalian bentuk aljabar.
a)
Perkalian antara konstanta dengan bentuk aljabar
Perkalian suatu bilangan
konstanta k dengan bentuk aljabar suku satu dan suku dua dinyatakan sebagai
berikut :
k(ax) = kax
k(ax + b) = kax + kb
b)
Perkalian antara dua bentuk aljabar
Sebagaimana
perkalian suatu konstanta dengan bentuk
aljabar, untuk menentukan hasil kali antara dua bentuk aljabar kita dapat memanfaatkan
sifat distributif perkalian terhadap penjumlahan dan sifat distributif perkalian terhadap pengurangan.
Selain dengan cara tersebut,
untuk menentukan hasil kali antara
dua bentuk aljabar, dapat
menggunakan cara sebagai
berikut.
Perhatikan perkalian antara bentuk aljabar
suku dua dengan suku dua berikut :
c)
Perpangkatan
Coba kalian ingat kembali
operasi perpangkatan pada bilangan
bulat. Operasi perpangkatan diartikan sebagai perkalian
berulang dengan bilangan yang sama. Jadi, untuk sebarang bilangan bulat a,
berlaku :
n faktor
Hal
ini juga berlaku
pada perpangkatan bentuk
aljabar.
Pada perpangkatan bentuk aljabar suku dua,
koefisien tiap suku ditentukan menurut
segitiga Pascal. Misalkan
kita akan menentukan pola koefisien pada penjabaran
bentuk aljabar suku dua (a + b)n, dengan
n bilangan asli. Perhatikan uraian berikut :
(a + b)1 = a + b (koefisiennya
1 1 )
(a + b)2 = (a + b)
(a + b)
= a2 + ab + ab+ b2
= a2 + 2ab+ b2
(koefisiennya 1 2 1 )
(a + b)3 = (a + b) (a + b)2
= (a + b)
(a2
+ 2ab + b2)
= a3 + 2a2b + ab2 + a2b + 2ab2 + b3
= a3 + 3a2b + 3ab2 + b3
(koefisiennya 1 3 3 1 dan
seterusnya)
Adapun pangkat dari a (unsur
pertama) pada (a+b)n dimulai dari an kemudian berkurang
satu demi satu dan terakhir a1 pada suku ke-n. Sebaliknya, pangkat dari b
(unsur kedua) dimulai dengan
b1 pada suku ke-2 lalu bertambah satu demi satu dan terakhir bn pada suku ke-(n+1).
Perhatikan pola koefisien
yang terbentuk dari penjabaran bentuk aljabar (a + b)n di atas. Pola koefisien
tersebut ditentukan menurut segitiga
Pascal berikut :

1

1 1

1 2 1

1 3 3 1

1 4 6 4 1
3) Pembagian
Hasil bagi
dua bentuk aljabar dapat kalian peroleh dengan menentukan terlebih
dahulu faktor sekutu masing-masing bentuk aljabar tersebut, kemudian melakukan pembagian pada pembilang
dan penyebutnya.
4) Substitusi pada Bentuk Aljabar




















Nilai suatu bentuk aljabar
dapat ditentukan dengan cara menyubstitusikan sebarang bilangan pada variabel-variabel bentuk aljabar tersebut.
5) Menentukan KPK dan FPB Bentuk Aljabar
Coba kalian
ingat kembali cara menentukan KPK dan FPB dari dua atau lebih bilangan bulat. Hal itu juga berlaku pada bentuk
aljabar. Untuk menentukan KPK dan FPB dari bentuk aljabar dapat dilakukan dengan
menyatakan bentuk-bentuk aljabar tersebut menjadi perkalian faktor-faktor primanya.
c.
Pecahan Bentuk Aljabar
1) Menyederhanakan Pecahan
Bentuk Aljabar




















Suatu pecahan bentuk aljabar dikatakan paling sederhana apabila pembilang
dan penyebutnya
tidak mempunyai faktor persekutuan
kecuali 1, dan penyebutnya tidak sama dengan nol. Untuk menyederhanakan pecahan bentuk
aljabar dapat dilakukan dengan cara membagi pembilang dan penyebut pecahan
tersebut dengan FPB dari keduanya.
2) Operasi Hitung Pecahan Aljabar
dengan Penyebut Suku Tunggal
a)
Penjumlahan dan pengurangan
Pada bab sebelumnya, kalian
telah mengetahui bahwa
hasil operasi penjumlahan dan pengurangan pada pecahan diperoleh dengan cara menyamakan penyebutnya, kemudian menjumlahkan
atau mengurangkan pembilangnya. Kalian pasti juga masih ingat bahwa
untuk menyamakan penyebut kedua pecahan,
tentukan KPK dari penyebut-penyebutnya.
Dengan cara
yang sama, hal itu juga berlaku pada operasi penjumlahan dan pengurangan bentuk
pecahan aljabar.
b)
Perkalian dan pembagian
Ingat kembali
bentuk perkalian bilangan pecahan yang dapat
dinyatakan sebagai berikut :
Hal ini juga berlaku untuk
perkalian pada pecahan
aljabar.
Kalian pasti masih ingat bahwa pembagian merupakan invers
(operasi kebalikan) dari operasi perkalian. Oleh karena itu, dapat
dikatakan bahwa membagi dengan suatu pecahan sama artinya dengan mengalikan terhadap kebalikan pecahan
tersebut.
Hal ini juga berlaku untuk pembagian pada pecahan bentuk aljabar.
c)
Perpangkatan pecahan bentuk aljabar
Operasi perpangkatan merupakan perkalian berulang dengan bilangan
yang sama.
Hal ini
juga berlaku
pada perpangkatan
pecahan bentuk aljabar.